KRL, atau kereta rel listrik, sudah menjadi bagian keseharian para urban worker di jabotabek. Moda transportasi ini menjadi bagian penting kehidupan para warga yang tinggal di seluruh wilayah jabotabek. Jadi, sangat tidak lazim apabila ada orang yang tinggal di wilayah ini tidak mengenal KRL. Bahkan, anak kecil pun tahu….

Terlepas dari pentingnya KRL ini, selalu ada masalah keseharian yang juga mengikutinya. Mulai dari keterlambatan dari jadwal, mogok di tengah jalan, wesel yang tidak dapat dipindah, bahkan sampai masalah persinyalan. Sedikit info, yang dimaksud dengan persinyalan di sini bukanlah seperti sinyal telepon atau sejenisnya tetapi berupa rambu-rambu elektronik yang biasanya berupa lampu baik di sepanjang rel atau di meja kontrol pusat operasional kereta (untuk Jabotabek, atau dikenal sebagai DAOP 1 ada di Stasiun Manggarai).

Masalah yang ada ini sudah muncul sejak lama, namun belum mampu diselesaikan, bahkan dengan pertambahan jumlah perjalanan dan pengguna akhirnya terasa makin parah. Akhirnya penumpang pun merasa sangat dirugikan. Pertama, biasanya kalau ada gangguan perjalanan tidak ada pengumuman kepada pengguna KRL, terutama sampai kapan gangguan ini akan dapat diatasi. Kedua, tidak ada kompensasi bagi pengguna jasa apalagi yang sudah berada di tengah perjalanan karena tiket tidak dapat ditukarkan kembali atau ada pengganti transportasi lain, sehingga pengguna KRL harus tetap menunggu sampai berjalan kembali. Ketiga, tidak ada rasa bersalah dari pihak operator karena jarang sekali meminta maaf atas kejadian tersebut dan tidak ada upaya untuk mencegah hal yang serupa terjadi kembali.

Memang cukup dimengerti posisi KRL atau kereta lainnya, sangat tidak jelas di mata pemerintah. Di satu sisi, pemerintah selalu mengatakan akan memperhatikan kepentingan masyarakat dimana ada kebutuhan transportasi umum yang baik. Apalagi dengan tujuan mengurangi kemacetan jalan di Jakarta. Namun sayang, pemerintah segan mengeluarkan uang untuk perbaikan prasarana transportasi ini, dan lebih senang mengeluarkan uang membangun jalan tol yang hanya membebaskan kemacetan sementara waktu. Ya memang cukup dimengerti, para pejabat pengambil keputusan untuk hal ini sudah dapat dipastikan jarang naik kereta (bahkan belum pernah), dimana mereka selalu mengandalkan mobil dinas dan kawalan patroli jalan raya. Ya jadi wajar saja, kalau transportasi rel ini selalu kekurangan dana.

Dengan segala kekurangannya tersebut, KRL tetap selalu jadi primadona warga jabotabek dikarenakan lebih cepat dan lebih murah dibandingkan bis. Oleh karena itu operator menerapkan tiga kelas KRL: KRL ekonomi, KRL ekonomi AC dan KRL Ekspress. KRL ekonomi adalah KRL biasa tanpa fasilitas AC, dimana kondisinya cukup mengenaskan karena banyak fasilitas dalam kereta yang sudah tidak berfungsi dan padat penumpang. Tarif tiket KRL ini paling murah karena ada subsidi pemerintah. KRL ekonomi AC serupa dengan KRL ekonomi hanya saja dilengkapi AC (yang sering tidak berfungsi juga), walau biasanya pintu masih bisa tertutup. Namun masalah kepadatan tidak beda jauh dengan KRL ekonomi, tarif tentunya lebih mahal kira2 tiga kali tarif KRL ekonomi jarak terjauh. Sedangkan KRL ekspress, dianggap KRL raja, karena selalu mendahului KRL kelas dibawahnya (KRL ekonomi AC dan KRL ekonomi), dengan tiket jauh lebih mahal sekitar dua kali KRL ekonomi AC. Kalau masalah kepadatan penumpang ya tidak berbeda jauh pada saat peak hour.

Pengoperasian tiga kelas KRL ini tentu membawa masalah tersendiri, namun cukup membantu para pekerja yang menyesuaikan dengan penghasilan dan kebutuhan waktu mereka. Bagi orang-orang yang memang berpenghasilan tinggi dan butuh waktu cepat, ya mereka harus membayar lebih dengan menaiki KRL ekspres. Namun, bagi pegawai yang berpenghasilan pas-pasan ya KRL ekonomi cukup membantu perekonomian mereka. Namun, karena pola operasinya yang mengatur penyusulan KRL ekspres terhadap KRL di bawahnya, dan beberapa kali terjadi kecelakaan rupanya membuat para pengatur perkeretaapian di Jabotabek agak khawatir (walau belum terbukti yang seperti mereka takutkan), dan akhirnya mereka merubah pola operasi mereka.

Pola yang diperkenalkan adalah tidak ada penyusulan KRL di stasiun manapun. KRL yang berjalan lebih dahulu akan sampai tujuan lebih dahulu. Sehingga keistimewaan kelas KRL ekspres pun terhapus dari pola operasi yang baru ini. Yang membedakan hanyalah fasilitas dalam kereta, apakah ber-AC atau tidak. Namun, sayangnya hal ini masih belum diakui terang-terangan oleh para pejabat perkeretaapian negeri ini. Dua wawancara terhadap Humas PTKA dan Humas KCJ, yang bertanggung jawab terhadap operasional KRL, masih belum mengakui penghapusan KRL ekspress.

Sebenarnya penghapusan kelas KRL menurut saya cukup bagus, namun yang harus dipastikan adalah kelancaran perjalanan. Selama ini yang menjadi kendala adalah KRL ekonomi yang sering mogok, sehingga mengganggu perjalanan KRL lainnya yang akhirnya menyebabkan antri. Belum lagi masalah persinyalan, wesel, perlintasan, dan hal-hal lainnya. Kalau penghapusan KRL ekspres tidak menjamin ketepatan perjadwalan maka akan banyak kerugian yang terjadi. Penumpang yang membutuhkan waktu cepat, akan memilih membawa kendaraan pribadi kembali yang akhirnya menyebabkan kemacetan, selain penurunan pendapatan operator kereta.

Perubahan pola operasi KRL yang ditujukan untuk memperlancar perjalanan KRL Jabotabek ini seperti belum tepat dilaksanakan saat ini. Pemerintah seharusnya memperbaiki prasarana kereta api terlebih dahulu. Setelah dipastikan masalah dengan prasarana dapat diatasi, barulah berbicara dengan pola operasional KRL atau kereta-kereta lainnya. Namun, bila perubahan ini tetap dilaksanakan dengan kondisi seperti ini, maka bukan menghilangkan masalah malah akan memperparah kondisi perjalanan KRL yang akibatnya banyak pengguna jasa yang akan berpikir menggunakan transportasi lainnya.

Mudah-mudahan, para pejabat di negeri ini benar-benar mau memperhatikan masalah umum transportasi bangsa ini, tidak hanya dijadikan bahasan politik saja…..