Akhirnya, banyak pengguna jasa KRL menahan napas lega karena penundaan perubahan pola operasi KRL, yang multi-class menjadi single-class. Karena ternyata dibalik niatan single-class tersebut ternyata yang dikejar adalah satu tarif, artinya dekat jauh ya harganya sama, tidak berdasarkan jarak antar stasiun. Yang membedakan hanya lintasan jauh seperti Depok dan Bogor, dan lintasan pendek seperti Bekasi, Serpong, dan Tangerang.

Hal ini yang rupanya tertutup oleh hingar-bingar pengumuman single-class, apalagi dengan adanya penundaan selama tiga bulan. Rencana yang beredar adalah tarif Rp. 9000 untuk rute Bogor dan Depok, dan Rp. 8000 untuk rute Bekasi, Serpong, dan Tangerang. Walau, masih ada pejabat PTKA yang membantah hal tersebut. Karena ketidaktahuan penumpang terhadap hal ini, sepertinya terlihat clash antara penumpang ekspress dengan penumpang non-ekspress, yang selama ini merasa tersisihkan karena mengalami penyusulan.

Dari Jadwal baru, memang terlihat ada tambahan perjalanan krl ekonomi, tapi sesuai perbandingan antara kenyataan di jadwal sekarang, ternyata ada yang “normal” batal… Dan sebagai gantinya pun, perjalanan krl komersial cukup mendominasi jadwal yang baru. Tipuan “kasat mata” dari PTKA/KCJ yang tentunya “sedikit” membawa berkah keuntungan bagi perusahaan tersebut karena bagaimanapun banyak penumpang yang akan “terpaksa” naik jadwal terdekat karena harus sampai kantor atau gigit jari karena dipotong gaji karena sering terlambat.

Penundaan perubahan pola operasi ini memang cukup baik, akan memberikan waktu bagi operator melakukan ujicoba jadwal baru tersebut di hari-hari libur (kalau mau dimanfaatkan) agar bisa memprediksi kalau jadwal tersebut dilaksanakan. Namun, di sisi lain operator harus mengurungkan niatnya untuk menaikan harga tiket dengan alasan penggunaan nama “KRL EKSPRESS” atau “KRL KOMERSIAL” yang berhenti di tiap stasiun. Kalau mau single-class ya harus terima konsekuensi dengan harga tarif yagn sama untuk krl dengan fasilitas yang sama.

Dan, janganlah memberlakukan single-tariff, tapi buatlah tarif sesuai dengan jarak tempuh. Salah satu alasan melakuakn single-class, kan katanya agar mampu mengangkut penumpang 1,2 juta per hari. Namun, kalau dengan sistem tarif seperti ini dapat dipastikan jalanan akan penuh dengan motor atau mobil kembali. Selain ketepatan jadwal yang masih rendah dan ketidaknyamanan di dalam krl (karena ac mati, penuh desak-desakan, gelap, ruang tunggu peron yang sempit), tentunya kenaikan harga tiket seperti yang diusulkan dapat memprovokasi para pengguna jasa mencari alternatif lain….

So buat para pejabat perkeretaapian indonesia, be wise lah… Lihatlah kenyataan di lapangan, sekali-kali ikutlah dalam krl di peak hour (tanpa pengawalan tentunya)… Semoga anda bisa merasakan nikmatnya jadi rakyat biasa…