Ya, kira-kira begitulah yang selalu diucapkan beberapa pejabat kita. KRL, atau kereta secara keseluruhan, adalah sarana transportasi masal di darat yang sedang dikembangkan di beberapa negara. Tidak ketinggalan negara kita ini, katanya sih ada beberapa proyek yang sudah dicanangkan untuk peningkatan daya angkut untuk mengurangi kemacetan jalan raya. Ya itu katanya sih….

Proyek Kereta bandara, pertama kali dicanangkan sekitar tahun 2005an dengan target 2011 sudah beroperasi, dengan konstruksi rel layang. Sampai sekarang proyeknya pun masih melayang-layang. Sudah beberapa kali tender sampai sekarang belum selesai juga, padahal sudah perusahaan pengelolanya sudah didirikan sejak lama, PT. Railink. Dan yang lebih mengagetkan, ternyata pelebaran jalan tol bandara malah mendahului proyek kereta bandara ini.

Apalagi ya, hemm…. Pevitalisasi perkeretaapian yang sudah dicanangkan entah sejak kapan, namun sejak kabiner 2009 mulai digencarkan kembali sampai sekarang pun belum berbuat banyak untuk perkembangan perkeretaapian di Indonesia. Contoh, penghidupan beberapa jalur yang sudah mati, bahkan hilang sama sekali, belum terlaksana. Ya mungkin, baru jalur Bogor – Sukabumi dengan menggunakan KRD Nippon Sharyo lama. Lalu jalur-jalur lainnya, ya masih wacana… wacana… dan wacana…. Ya tidak usah jauh-jauh menghidupkan jalur mati, sekarang konsentrasi saja untuk memperbaiki jalur yang ada agar rakyat tetap memilih kereta sebagai sarana transportasi utama mereka.

Kita lihat Jabotabek, gangguan perjalanan hampir tiap hari terjadi. Entah karena gangguan persinyalan, gangguan wesel, gangguan jaringan listrik bahkan kereta mogok. Jabotabek yang di pusat negeri ini saja seperti itu, apalagi jalur-jalur kereta di daerah-daerah. Karena jumlah perjalanannya tidak sebanyak Jabotabek, mungkin tidak begitu terasa keluhannya, tetapi tetap saja harus diperhatikan. Karena hal-hal seperti ini, banyak pengguna kereta akhirnya “terpaksa” berpindah menggunakan transportasi lain. Ada pesawat murah yang hanya beda seratus ribu dengan tiket kereta, namun waktu perjalanan jauh lebih singkat. Ada bis travel agent yang lebih nyaman, tanpa khawatir akan telat. Bahkan KRL pun sekarang mulai bersaing dengan dealer motor yang memberikan kemudahan kredit murah.

Jalan Jakarta Yang Selalu Macet

Jalan di Jakarta Pada Jam Sibuk

Oke, let’s talk about KRL…. Why? Karena KRL Jabobatek menjadi tolak ukur perkeretaapian nasional, sehingga kalau KRL jabotabek ini sudah membaik maka perkeretaapian nasional akan menjadi menjadi baik juga. Saat ini perkiraan jumlah penumpang KRL Jabotabek (dibantu dengan beberapa kereta ekonomi lokal: Jakarta – Merak, Jakarta – Purwakarta, dsb) kira-kira 400 – 500 ribu penumpang per hari. Jadi kalau pulang pergi sekitar 800 ribu orang per hari. Katakanlah semua penumpang terangkut oleh KRL, dimana terdapat 8 gerbong per rangkaian/jadwal. Bila satu gerbong dapat mengangkut 200 orang, kebutuhan perjalanan per hari akan berkisar 500 perjalanan pulang pergi untuk semua lintasan. Kenyatannya distribusi penumpang tidak sama setiap jam, dimana di dominasi pada jam sibuk pagi hari (06.00 – 08.30) dan sore hari (16.30 – 19.00). Penumpukan penumpang di stasiun terlihat jelas, dan okupansi setiap gerbong akan melebihi angka 200 orang, bahkan di KRL ekonomi bisa mencapai kepadatan 2x lipat (400 orang per gerbong). Tidak percaya, silahkan buktikan sendiri.

Kalau melihat kemacetan Jabotabek, terutama di Jakarta, pastinya semua orang menginginkan transportasi umum yang bagus agar mengurangi para urban worker membawa kendaraan pribadi. Namun, kebijakan pemerintah kurang mendukung hal ini. Lihat saja bis-bis umum yang sudah tua dan tidak laik jalan dengan asap yang tebal, banyak copet, memindahkan penumpang seenaknya, dan banyak lagi hal-hal yang membuat orang malas menggunakan transportasi tersebut. Lalu ada Transjakarta, bus dengan jalur khusus yang disebut busway. Dengan pengaturan khusus memang lebih baik, namun sekarang terlihat sudah halte mulai kurang terawat, Bis sudah ada yang rusak, bahkan copet pun sudah mulai merambah masuk. Walau sedikit menarik minat, namun belum membawa banyak perubahan karena kebanyakan penumpang adalah penumpang bis umum yang pindah menggunakan Transjakarta agar lebih murah, karena walaupun berganti beberapa bis tidak menambah uang lagi bila tidak keluar halte.

Namun, solusi terbesarnya ada di KRL Jabotabek yang terlupakan. Daya angkut yang banyak, kecepatan waktu tempuh, dan tentunya langsung dari wilayah-wilayah pemukiman Jabotabek. Ini lebih efektif karena benar-benar mencegah kendaraan pribadi masuk Jakarta, yang sayangnya tidak dapat terlihat oleh mata para pejabat. Mereka lebih senang mengembangkan jalan tol dan jalan layang agar menaikkan daya tampung kendaraan pribadi yang masuk Jakarta. Padahal begitu jalan bertambah, maka jumlah kendaraan juga akan bertambah yang akhirnya akan menyebabkan kemacetan kembali. Dengan bagusnya perjalanan KRL bisa dipastikan banyak penglaju akan berpindah menjadi pengguna moda transportasi rel ini. Namun, untuk “memaksakan” hal tersebut terjadi maka KRL harus bebas gangguan. Untuk prasarana, gangguan wesel rusak, rel patah, sinyal mati, atau suplai listrik mati harus dihilangkan. Baru kemudian kita bicara sarana atau gerbongnya, gangguan ac/kipas angin mati atau krl mogok juga harus dihilangkan agar perjalanan bisa tepat waktu dan penumpang mendapatkan kenyamanan.

KRL Pada Kondisi Jam Sibuk

Kondisi sehari2 penumpang KRL pada jam sibuk

Cara operasional baru dimana tidak ada KRL ekspress yang bisa menyusul krl ekonomi (Single Operation), akan menimbulkan masalah baru. Dengan dihapuskan krl ekspress, maka bisa dipastikan akan banyak penumpangnya yang mulai menggunakan motor atau mobil kembali. Selain timbul kemacetan, target pemerintah untuk meningkatkan jumlah penumpang krl menjadi 1,2 juta orang perhari akan gagal. Pemerintah yang membentuk lembaga baru UKP4 di bawah wapres untuk mengurusi hal ini pun hanya mampu memberikan saran, namun tetap harus menunggu niat baik pemerintah untuk melaksanakan solusi yang mereka tawarkan. Ya bagaimana para pejabat itu bisa mengerti pentingnya transportasi umum, kalau mereka belum pernah “menikmatinya” tanpa protokol khusus. Bahkan menikmati macetnya Jakarta saja mereka tidak pernah karena selalu ada pengawalan di depan yang akan menghalau para pengguna jalan lain untuk memberikan kelancaran kepada mereka.

Kembali ke KRL, tidak ada yang salah dengan SO, tetapi pemerintah dan PTKA/KCJ harus jeli dengan kondisi sekarang dimana perjalanan krl belum dipercaya tepat waktu. Belum lagi masalah kenaikan tiket, yang walau direvisi namun bagi sebagian orang belum layak dinaikkan. KRL Commuter Line, yang diperkenalkan sebagai produk baru (ya mungkin harga tiketnya yang baru tapi keretanya ya itu-itu juga), sebenarnya adalah krl ekonomi ac akan berkurang peminatnya karena masalah tiket, dan menambah kepadatan krl ekonomi. Toh untuk mereka, perjalanannya akan sama ya lebih baik naik yang lebih murah. Dari jadwal yang dikeluarkan terlihat ada pengurangan krl ekonomi, padahal diperkirakan penggunanya akan bertambah karena limpahan dari krl eko ac yang tidak mau membayar lebih untuk naik krl commuter line. Hal-hal seperti ini sepertinya tidak diperhitungkan oleh mereka, atau sudah diperkirakan namun tetap memaksakan kehendaknya kepada para pelanggan mereka. Oleh karena itu, krl ekonomi butuh penambahan armada, dimana salah satu pilihan adalah penggunaan krl hibah dari jepang yaitu seri Toei 6000. Kenapa krl ini dipilih selain karena statusnya yang hibah, fasilitas ac-nya pun sudah kurang memadai karena sering rusak atau terasa hangat sehingga tidak cocok digunakan untuk krl commuter line yang “katanya” menawarkan kenyamanan kereta ber-ac. Penambahan ini krl ekonomi sangat perlu karena alasan di atas, dan juga kewajiban pemerintah untuk memberikan “insentif” bagi para pengguna krl yang ikut serta meminimalkan penggunaan subsidi BBM.

Ya, kita lihat saja hasil perubahan operasi ini. Mudah-mudahan pemerintah mau membuka mata dan mempercepat perbaikan transportasi masal berbasis rel ini. Janganlah menganggap dana yang dikeluarkan sebagai “subsidi” tetapi merupakan “insentif” kepada pengguna transportasi umum. Biar bagaimanapun, mereka turut serta dalam mengurangi pengeluaran pemerintah dalam subsidi BBM, yang mayoritas dinikmati oleh para penglaju Jabotabek.

Yang mau download perjalanan KRL Jabotabek per 2 Juli 2011 (Update tanggal 29 Juni 2011), silahkan klik di link berikut:
KRL Lingkar Ciliwung
KRL Bekasi – Jakarta/Tanahabang
KRL Bogor/Depok – Jakarta/Tanahabang
KRL Serpong – Jakarta/Tanahabang
KRL Tangerang – Jakarta/Tanahabang