Setelah beberapa posting membahas tentang kereta api (terutama KRL), padahal dunia transportasi tidak hanya itu saja. Salah satu yang masih menjadi perhatian transportasi Indonesia adalah penerbangan. Kasus “EU Banned Airlines” masih mendominasi kebanyakan airline kita, ada yang beralasan tidak terbang ke sana, ada yang memang merasa belum perlu, ada juga yang memang tidak berniat, tapi ya sebenarnya ada juga airline yang sudah wafat alias bangkrut.

Dibandingkan beberapa tahun lalu, airline kita sudah cukup kuat dengan berani mengambil pesawat baru setelah hampir satu dekade lebih tidak ada pesawat baru yang mengawali terbangnya dari negara ini. Garuda dengan 737-800 dan A330-200, Lion Air dengan 737-900ER, AirAsia dengan A320, Wings Air dengan ATR72, dan awal tahun depan (kalau jadi) Sriwijaya dengan E190. Minat masyarakat untuk menggunakan transportasi ini pun semakin bertambah, moda tranportasi lainnya menjadi korban. Kapal laut, kereta api jarak jauh, bis antar kota, sudah bersaing ketat dengan pesawat murah terlebih lagi dengan adanya penerbangan murah. Bahkan gengsi bahwa naik pesawat hanya untuk orang berdasi sudah luruh, penumpang yang memakai sandal jepit dan membawa kardus pun banyak memilih pesawat karena lebih cepat dibandingkan kereta api atau kapal laut.

Bila dibandingkan dengan moda transportasi lainnya, maka bisa dibilang airline Indonesia bisa menang ditandai dengan makin banyaknya masyarakat Indonesia yang menggunakannya. Tetapi bila dibandingkan dengan airline luar negeri, hal ini yang perlu dipertanyakan. Mampukah airline lokal di negeri ini bersaing dengan airline luar? Untuk beberapa airline sepertinya mereka sudah siap, namun beberapa lagi sepertinya masih jago kandang. Karena untuk mampu bersaing, tidak bisa hanya mengandalkan jumlah penumpang yang banyak saja tetapi bagaimana manajemen di dalamnya untuk selau melakukan improvisasi. Perbaikan tersebut tidak hanya dari pelayanan, tetapi keseluruhan sistem manajerial.

Airline Indonesia menjual tiket dalam nilai rupiah, sedangkan untuk membayar pesawat dan membeli komponen untuk maintenance harus memakai dollar. Padahal nilai dollar ke rupiah pun fluktuatif, selain masalah persaingan harga tiket. Ini adalah satu hal tersendiri yang membuat tantangan airline Indonesia lebih berat. Selain itu, mulai banyaknya airline luar yang masuk langsung ke bandara-bandara di daerah juga tantangan tersendiri, terutama airline regional. Untuk rute domestik memang tidak perlu khawatir, namun rute-rute regional juga yang harus mulai dicermati. Apabila persaingan head-to-head dengan harga tiket yang serupa, kebanyakan masyarakat kita akan memilih airline luar karena dianggap lebih baik pelayanannya atau karena lebih gengsi (prestige). Hal ini belum termasuk keinginan airline luar untuk masuk dengan membeli saham airline lokal. Persaingan tentunya akan makin menarik.

Jadi, mampukah airline Indonesia bertahan dari gempuran airline luar? Ya tergantung dari kemauan manajemen mereka untuk selalu bergerak maju alias improvisasi. Jangan hanya mengandalkan jumlah penumpang sebagai tolak ukur, karena untuk mengejar jumlah penumpang cukup mudah bila hanya mengandalkan perang harga. Tapi, sampai kapan? selamanya? Suatu saat, akan ada waktu dimana para penumpang tidak hanya melihat harga murah sebagai pilihan utama, mereka akan melihat kepuasan sebagai tolok ukur utama.