“Pak…, pindah belakang ya….! Mau muter lagi nih….”

Kalau anda tinggal di Jabotabek, apalagi bekerja di Jakarta, pasti sudah familiar dengan kata-kata tersebut. Setidaknya, kalimat serupa yang sering diucapkan kondektur/kenek biskota atau supir angkot. Hal ini yang mengurangi kenyamanan angkutan umum di kota Jakarta. Bahkan, mungkin di kota-kota lainnya. Dan hal tersebut tidak dilakukan oleh angkutan dalam kota saja, tetapi juga angkutan antar kota dengan berbagai trik-trik yang mereka lakukan dengan tujuan serupa.

Ketika masih kuliah, saya pernah mengalami naik bis Jakarta – Bandung dari Kp. Rambutan. Baru saja keluar dari terminal, kenek sudah menagih ongkos bis padahal biasanya dilakukan setelah bis memasuki wilayah Ciawi (trayek bisnya masih melewati jalan tol jagorawi dan puncak). Ternyata, begitu sampai Ciawi semua penumpang dioper dengan alasan bis mogok. Apalagi kl bicara kopaja, metromini, ppd, mayasari bhakti…. sudah seringkali terjadi selama jadi penghuni Jabotabek.

Bahkan pernah sekali ketika awal-awal peresmian jalur busway grogol – kalideres, ketika hendak sampai halte cengkareng, salah seorang petugas di dalam bis (karena memegang HT dan memagai seragam) tiba-tiba mengatakan, “putar balik di halte depan, biar penumpang turun di sini sambung bis belakang.” Tentunya penumpang yang mendengar marah, beberapa menanyakan kenapa dengan nada kesal. Tapi petugas tersebut tidak mau mejawab, ketika sampai di halte cengkareng penumpang tidak ada yang mau turun walaupun petugas pintu mengatakan bis akan berputar. Akhirnya, bis tetap melanjutkan sampai kalideres, namun petugas yang menyuruh berputar turun di halte cengkareng.

Kondisi ini kalau tidak diperbaiki, maka bis umum tidak akan menjadi pilihan bagi orang-orang yang terbiasa naek kendaraan pribadi, apalagi kl Transjakarta ikut-ikutan perilaku ini. Salah satu alasan orang-orang memilih Transjakarta karena mereka tahu tidak akan dioper ke bis lain walaupun kosong. Perilaku seperti ini seharusnya menjadi perhatian Dinas Perhubungan DKI, dan tentunya Dishub-Dishub pemda lainnya karena hampir semua angkutan umum melakukan hal tersebut. Mereka harusnya memasang pengawasan, dimana bila bis tersebut memindahkan penumpang ke bis lain tanpa alasan yang jelas (mogok, ban pecah, dll) maka harus ada hukuman. Bila pengawasan ini tidak dilakukan, ya transportasi umum tidak akan pernah jadi salah satu pilihan untuk mengurangi kemacetan Jakarta.

Ini baru bicara mengenai perilaku kru angkutan umum, padahal mayoritas kondisi fisik bis-bis di Jakarta juga sangat memprihatinkan. speedometer yang sudah tidak berfungsi, lampu kendaraan yang tidak jelas, belum lagi masalah kaca yang pecah dan kursi yang tidak layak.  Jadi kalau tidak ada perbaikan kebijakan terhadap angkutan umum, maka kemacetan Jakarta akan terus terjadi. Pemecahan dengan solusi apapun, termasuk membuat jalan baru hanya menunda kemacetan di jalan tersebut sampai suatu waktu.