Akhirnya, sebulan sudah KRL dengan pola operasi tunggal (Single Operation) dijalankan oleh PTKA dan KCJ. Sebuah prestasi? Ya tidak juga sebenarnya, karena apa yang dilakukan sekarang tetap serupa dengan pola operasi sebelumnya walaupun ada KRL Ekspress. Soalnya, pada kenyataan KRL Ekspress pun banyak berhenti walaupun tidak mengangkut penumpang. Dan masalahnya yang adapun tetap sama, gangguan wesel, sinyal rusak, krl mogok, dan lain-lain. Memang ada yang bisa dikontrol oleh PTKA sebagai pengelola infrastruktur (rel, wesel, sinyal) dan sarana (kereta/gerbong dan lokomotif). KCJ hanya anak perusahaan yang menghitung pendapatan KRL Jabotabek…..

Dan kalau dilihat alasan diberlakukannya Single Operation ini pun bukan karena untuk perbaikan atau peningkatan pelayanan dalam arti tidak ada gangguan perjalanan, namun dalam arti mampu mengangkut penumpang dari setiap stasiun oleh krl manapun. Karena pada sistem operasi yang lalu, KRL Ekspress hanya berhenti di beberapa stasiun saja. Penumpukan penumpang memang terjadi karena frekuensi antara KRL Ekspress dan KRL ekonomi (termasuk KRL Ekonomi AC) tidak sebanding. Kalau diperhatikan perjalanan KRL ekspress lebih banyak dibandingkan KRL Ekonomi dan KRL Ekonomi AC, sehingga penumpang di beberapa stasiun harus menunggu 30 menit sampai 1 jam untuk naik KRL. Kalau saja perjalanan KRL ekspress hanya terbatas beberapa jadwal, maka seharusnya penumpukan penumpang dapat berkurang jauh. Tapi apa daya, PTKA dan KCJ membutuhkan pendapatan yang lebih besar sehingga KRL ekspress menjadi dominan.

Oke, that’s the history… let’s face the future……

Sebenarnya, ide operasi tunggal ini pernah dilontarkan oleh pengguna jasa KRL pada pertemuan rutin dengan manajemen PTKA dan KCJ beberapa tahun lalu, sebagai respon terhadap pemasangan mesin tiket elektronik. Sedikit flashback tentang pertemuan tersebut, komunitas KRLMania meminta jajaran petinggi PTKA dan KCJ untuk menunda proyek tiket elektronik dan meminta memulai program sterilisasi stasiun dan edukasi masyarakat. Namun, para pejabat-pejabat tersebut sangat percaya diri bahwa proyek itu dapat berjalan dalam waktu 3 bulan, karena diminta oleh Pak Menhub yang baru saja dilantik. Sampai saat ini, seluruh stasiun kereta di Jabotabek sudah terpasang mesin tiket elektronik tersebut, namun belum pernah digunakan kecuali untuk ujicoba. KRLMania meminta setelah sterilisasi, lalu membuat perjalanan dengan satu jenis kereta (KRL AC, namun bukan satu tiket atau satu harga), barulah program mesin tiketing ini dapat diimplementasikan. Rupanya, ide operasi tunggal ini langsung dilakukan tanpa adanya persiapan dengan sterilisasi stasiun. Bahkan kalau dibilang, saat ini pun belum tercapai operasi tunggal karena masih ada KRL Ekonomi dan KRL Commuter Line.

Perubahan pola operasi ini sebenarnya diapresiasi oleh mayoritas penumpang, namun sayangnya tanpa penyelesaian masalah yang sama akhirnya membuat banyak penumpang yang lebih merasa tersiksa. Selain perjalanan KRL menjadi lebih lama, tingkat okupansi kereta juga menjadi lebih padat, ketidakjelasan informasi akibat keterlambatan, dan tentu saja tingkat kejahatan menjadi meningkat. Banyak penumpang yang merasa senang karena mereka tidak kesal melihat KRL Ekspress yang melaju kencang ketika mereka menunggu KRL Ekonomi atau KRL Ekonomi AC. Banyak penumpang yang mengeluhkan kepadatan dalam kereta, namun hal itu wajar terjadi. Dimanapun yang namanya angkutan komuter pasti akan penuh, namun bila digabungkan dengan sering terjadinya gangguan, ya tentu saja akan berbeda rasa dan ceritanya. Di Jepang, kepadatan KRL jauh lebih desak-desakan dibandingkan Jabotabek, namun gangguan kereta amat sangat jarang terjadi di sana. Dan kalaupun terjadi gangguan sehingga banyak penumpang yang komplain, esoknya mungkin kita akan mendengar pengunduran diri pejabat yang berwenang bahkan mungkin sampai harakiri. Kalau di sini, tabrakan antar kereta yang menyebabkan beberapa korban jiwa pun tidak mampu menggoyahkan ‘iman’ mereka sebagai tanda bahwa mereka sebenarnya tidak mampu mengelola amanat yang diberikan.

Oke, back to future… eh, back to single operation….

Gangguan yang kerap terjadi ini bukanlah gangguan baru, tapi gangguan yang memang sudah terjadi bahkan sering namun tanpa ada penyelesaian yang jelas. Dari segi sistem peralatan, sudah jelas perlu peningkatan bahkan penggantian. Dari segi manusianya, pasti perlu pembekalan yang lebih baik lagi. Namun yang terpenting adalah dari segi manajemennya, seharusnya punya contigency plan apabila terjadi gangguan selama gangguan tersebut belum mampu diatasi secara baik. Misalnya, kalau terjadi gangguan sinyal, apa salahnya menggunakan aturan jaman dulu yang memakai lampu minyak di setiap stasiun sebagai tanda kereta aman berjalan. Namun karena jaman sudah lebih canggih, ya lampu minyak tersebut bisa digantikan dengan HT atau alat komunikasi lain dan tentu saja bantuan lampu senter dengan warna yang sesuai. Masalah-masalah yang sama yang selalu muncul ini banyak yang membuat pengguna jasa mereka tidak habis pikir kenapa bisa terjadi terus.

Salah satu alasan yang sering dilontarkan adalah kurangnya subsidi dari pemerintah. Alasan klasik yang selalu terdengar. Dan seperti yang sudah dibahas di SINI, masalah ini tidak pernah berujung dan berpangkal, masing-masing pihak selalu mempertahankan sikapnya tanpa berusaha mencari titik temu. Akhirnya, pengguna jasa keretaapi yang menjadi korban karena PTKA atau KCJ selalu berusaha menaikan harga tiket untuk biaya operasional mereka. Padahal di sisi lain, pemerintah sedang gencar menekan kemacetan Jabotabek, khususnya Jakarta. Hal ini yang mendorong pola operasi KRL yang sekarang, atas permintaan Pak Wapres untuk mengangkut 1,2juta penumpang per hari. Dan bila gangguan-gangguan perjalanan KRL ini tidak pernah bisa diperbaiki sehingga berkurang atau hilang sama sekali, maka banyak pengguna yang dengan terpaksa kembali ke jalan raya menggunakan mobil pribadi. Jabotabek pun makin macet, banyak kerugian yang tidak terlihat yang belum pernah dihitung oleh pemerintah akibat kemacetan Jakarta. Namun, untuk mengeluarkan uang subsidi kepada PTKA susah sekali, bahkan isyunya harus melalui calo anggaran segala. Dan masih banyak hal-hal lain yang berkaitan dengan subsidi yang seharusnya dapat digunakan untuk peningkatan infrastruktur rel dan prasarana kereta lainnya.

Kondisi lain yang perlu direview adalah keamanan dan keselamatan pengguna jasa, PTKA dan KCJ harus memprioritaskan hal ini. Di peron, pengguna jasa sering berdiri dekat batas peron karena areanya dipakai oleh pedagang asongan atau kios-kios yang ada di peron. Peran petugas keamanan, baik di stasiun maupun di kereta, harus lebih tegas tidak pandang bulu. Bila tidak pegang tiket ya denda, walaupun mereka adalah tentara atau polisi bersenjata lengkap (kecuali dalam rangka tugas pengawalan kereta), jangan hanya beranti mendenda penumpang saja. Selain itu juga, masalah copet dan jambret yang makin banyak. Petugas keamanan harus lebih sigap dan waspada agar kejadian tersebut berkurang. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah ketika proses naik dan turun, potensi chaos dan menyebabkan kecelakaan sangatlah tinggi sehingga perlu tindakan nyata untuk mencegah hal tersebut. Dan bila terjadi, maka petugas jaga harus mampu melaksanakan tugasnya untuk menolong penumpang yang terluka dengan cepat dan tepat. Sudah ada beberapa kasus karena lamban ditangani petugas, korban akhirnya meninggal dunia (terlepas dari masalah takdir oleh Alloh SWT). Tindakan yang cepat dan tepat sangat menentukan kondisi korban selanjutnya.

Hal yang perlu diwaspadai untuk mengurangi resiko kecelakaan adalah rasio jadwal antara KRL Ekonomi dan KRL Commuter Line. Karena keterbatasan sarana, perjalanan KRL Ekonomi jauh lebih sedikit daripada KRL Commuter Line. Padahal tidak semua penumpang mampu naek KRL Commuter Line, sehingga mereka rela berdesak-desakan naik KRL Ekonomi yang panas. Dan apabila ada gangguan perjalanan, seharusnya pihak stasiun menginfokan sesegera mungkin agar penumpang dapat mengambil keputusan, berpindah menggunakan moda transportasi lainnya atau tetap menunggu. Informasi keberadaan ini juga yang seharusnya tidak memilah antara KRL Ekonomi dan KRL Commuter Line. Penambahan jadwal KRL Ekonomi dirasakan sangat perlu. Namun, jangan lupa juga jadwal KRL Commuter Line perlu ditambah untuk beberapa rute untuk menarik minat masyarakat untuk naik KRL untuk mengurangi macet.

Sebulan operasi tunggal ini semoga tidak membuat para pejabat PTKA dan KCJ besar kepala. Secara keseluruhan memang bagus, bila dinilai dengan kenaikan jumlah penumpang (berdasarkan klaim KCJ yang mengatakan ada peningkatan jumlah penumpang di beberapa stasiun). Namun, bila penumpang tambahan tersebut ternyata berpindah dari moda transportasi umum lainnya (bis atau angkot), ya berarti program ini belum berhasil karena seharusnya yang ditarik adalah pengguna kendaraan pribadi. Bila ini tidak terjadi, Jakarta tidak akan pernah lepas dari macet. Operasi tunggal KRL Jabotabek pun tidak berarti manfaat apa-apa selain hanya menyulitkan para pengguna jasa karena perjalanan menjadi lebih lama. Perbaikan prasarana harus dikebut agar penumpang dapat mengandalkan transportasi rel ini.