Angkot, atau angkutan perkotaan…. transportasi yang lebih mudah dicari di wilayah perkotaan untuk masuk ke pelosok daerah. Bentuknya biasanya berupa mobil minivan, dengan kapasitas 10-15 penumpang, walau di beberapa daerah menggunakan mobil yang lebih besar. Krunya pun biasanya hanya supir saja, tanpa kondektur atau kenek, dimana penumpang membayar langsung ongkosnya ke supir. Di pedesaan, ada juga angkutan sejenis yang disebut angkutan pedesaan. Sayangnya, saya belum pernah naik angkot di setiap kota yang saya kunjungi….

Yang unik, setiap kota banyak mempunyai ciri-ciri tersendiri untuk angkot ini bahkan namanya pun bisa berbeda-beda. kl di Jabotabek, jelas sebutan angkot tetap angkot, warna angkot tergantung jurusan yang ditempuh selain ada tanda pengenal rutenya yang berupa nomor angkot atau cat khusus. Lain lagi di jawa timur, angkot dikenal dengan sebutan TAKSI, nah hati-hati, jangan sampai salah. Namun, ada juga kota yang menyebutnya LIN. Di Balikpapan pun sebutannya TAKSI, namun di Sulawesi, umumnya dikenal dengan sebutan PETE-PETE. Yang khas adalah di Medan, menyebutnya Sodaku. Entah di kota-kota lainnya, maklum belum banyak kota yang sudah saya singgahi.

Selain nama yang unik, ada juga kebiasaan unik masing-masing angkot setiap daerah. Misalnya di Balikpapan, angkot-angkot tersebut berebut mendapatkan penumpang dengan fasilitas full music. ya full music-nya bukan sekedar ada musik yang terdengar, tapi sangat keras (menurut saya). Kalau di Sulawesi, biasanya angkotnya ini berupa mobil biasa dengan pelat nomor kuning, berbeda dengan angkot di Jawa. Kalau naik angkot Sulawesi ini, terasa seperti mobil charteran… karena harganya pun juga biasanya jauh lebih mahal daripada angkot di Jawa. Pernah naik angkot di sebuah kota di Kalimantan, ternyata angkotnya ini tidak punya rute yang penting sebelum naik penumpang bertanya dulu apakah supirnya akan lewat jalan yang hendak dia tuju. Kalau tidak, hehehe…., jangan marah kalau tidak sampai tujuan dan malah jadi bingung.

Oke, sekarang kita membahas masalah angkot di kota-kota besar. Selain memang memudahkan masyarakat bepergian, namun sering sekali terjadi keluhan kalau angkot ini penyebab jalanan menjadi macet karena sering berhenti sembarangan untuk menaikkan atau menurunkan penumpang. Belum lagi kalau berhenti menunggu penumpang (ngetem) cukup lama, pastinya mengganggu lalu lintas. Atau yang lebih berbahaya, kebut-kebutan untuk mencari penumpang yang dapat membahayakan jiwa orang lain. Dan tentunya ada keluhan-keluhan lain berkaitan dengan kebiasaan supir angkot.

Penataan, yups… penataan. Satu kata yang sangat diperlukan agar angkot ini tetap ada di jalan raya tapi tidak mengganggu pengguna jalan lain. Perhitungan kebutuhan jumlah angkot di suatu wilayah haruslah benar, jangan karena adanya ‘investor’ yang rela membayar agar mendapatkan izin trayek maka jumlah angkot selalu bertambah sehingga terjadi persaingan tidak sehat antar supir angkot. Lalu, masalah pemberhentian… walau tidak sejauh pemberhentian bis, namun sudah seharusnya diatur lokasi-lokasi pemberhentian angkot dan disediakan fasilitas untuk naik dan turun penumpang. Angkot juga sebaiknya ditujukan untuk jarak pendek saja, misalnya paling jauh 10 – 15km, atau maksimum 30 menit perjalanan dalam keadaan lancar. Salah satu rute angkot yang menurut saya terlalu jauh adalah rute Cibinong – Kp. Rambutan (Bogor – Jakarta Timur). Berapa kilometer ya? Tapi yang pasti perjalanan angkotnya sendiri bisa mencapai 2 jam, sehingga seringkali supir menurunkan penumpang di tengah-tengah jalur. Penumpang harus berpindah angkot lain untuk sampai tujuannya (rute angkotnya tetap sama).

Hal-hal seperti ini memang sudah menjadi perhatian pemerintah daerah, mereka selalu mengatakan untuk melakukan penataan angkot dan terminalnya. Tapi entah kenapa, program ini seperti tidak berjalan. Lihat saja ketika siang hari, banyak angkot yang berhenti menunggu penumpang sehingga menimbulkan kemacetan, terutama di pintu masuk dan keluar terminal. Dan bila angkot ini gagal ditata ulang, baik dengan pembatasan jumlah atau pengaturan rute yang lebih bagus lagi, maka kemacetan di kota-kota besar tidak dapat dihindari. Ini belum menyentuh kebiasaan supir angkot yang tidak memperhatikan keselamatan lalu lintas. So, anggapan angkot sebagai biang kemacetan dapat dihilangkan….