Hari ini, ada berita yang cukup baik di Ibukota Negara tercinta ini, yaitu peresmian bis Kopaja AC. Ya dibilang baik, karena masyarakat Jakarta mempunyai pilihan lain untuk bepergian dengan lebih nyaman (baca di sini). Yang membuat nyaman bukan karena AC-nya tapi ada pembatasan penumpang bila benar-benar terlaksana. Sebenarnya, sudah banyak bis-bis AC yang berukuran besar, namun karena selalu overload menjadi tidak nyaman. Apalagi biasanya AC-nya hanya mengeluarkan angin saja, tanpa ada rasa dingin. Selain itu dengan kepadatan tinggi, terkadang kendaraan berjalan dengan ayunan yang memualkan karena bis biasanya miring ke kiri, seperti lagu Iwan Fals yang menggambarkan kondisi bis-bis di Jakarta.

Apakah masyarakat Jakarta benar-benar mengharapkan semua bis ada AC? Kalau dilihat dari kebiasaan, sepertinya yang diharapkan pertama kali adalah kelancaran lalu lintas, terutama bis tidak berhenti sembarangan dan terlalu lama menunggu penumpang. Lalu adalah keamanan pada saat naik bis, sering terdengar ada pencopetan atau penjambretan bila naik angkutan umum. Barulah kenyamanan jadi pilihan, untuk menghilangkan penat dan kesal di antara macetnya Jakarta. Mungkin salah satu yang diharapkan adalah pembatasan penumpang, selama ini awak bis selalu memaksa menaikan penumpang padahal kondisi bis sudah penuh sesak. Hal ini tentu mengundang para kriminal untuk melakukan kejahatan, termasuk para penderita sakit jiwa yang melakukan pelecehan seksual.

Dengan beroperasinya armada baru ini, diharapkan Kopaja mampu menjaga asetnya. Pemeliharaan aset harus tetap baik, jangan sampai ada komponen-komponen yang tidak berfungsi. Bukan rahasia lagi kalau di hampir seluruh bis yang beroperasi (semua perusahaan) speedometer sudah tidak berfungsi, bahkan tidak jarang lampu pun hanya sebelah saja. Salah satu hal yang dapat mencegah kejahatan adalah lampu dalam, banyak bis yang gelap atau temaram yang memungkinkan terjadinya kejahatan ringan. Selain itu adalah cara mengemudi awaknya harus dijaga kualitasnya, tidak asal kebut dan rem dengan sembarangan. Selain membahayakan keselamatan penumpang juga dapat merusak kondisi kendaraan. Ya, pokoknya jangan sampai bisnya mengeluarkan asap hitam….

Mudah-mudahan dengan kondisi seperti ini dan makin banyak bis yang beroperasi, masyarakat mempunyai banyak pilihan angkutan umum yang lebih layak sehingga mereka mau meninggalkan kendaraan pribadinya dan menggunakan kendaraan umum. Yang terpenting adalah Dishubda memperhatikan aturan main angkutan umum dan pengelola bis mau tetap menjaga kualitas produknya. Memang usaha yang berat dan mahal karena banyak tangan jahil. Masyarakat sebagai pengguna juga mempunyai kewajiban menjaga aset ini jangan sampai rusak dan akhirnya tidka beroperasi kembali.