Akhirnya, muncul kembali isyu yang membuat gundah para penumpang KRL Jabotabek terutama dari lintasan Depok dan Bogor, yang merupakan mayoritas penumpang KRL Jabotabek. Isyunya adalah penyederhanaan rute, dimana setiap lintasan hanya punya satu rute tujuan saja. KRL lintas bogor saat ini punya dua rute utama: Bogor – Depok – Jakarta Kota dan Bogor – Depok – Tanahabang, disamping varian dari kedua rute utama tersebut. Nanti di saat pemberlakukan rute baru, maka yang ada hanya Bogor – Depok – Tanahabang – Pasarsenen – Jatinegara, PP alias bolak-balik. Rute yang tadinya berjumlah 37 rute akan hanya menjadi 5 rute saja. Benarkah?

Perubahan rute ini tentu saja membuat ‘panik’ penumpang KRL lintas Depok dan Bogor, karena mayoritas penumpangnya adalah tujuan Jakarta Kota. Mereka harus turun di Manggarai untuk menunggu KRL tujuan Jakarta Kota dari Bekasi. Yups, untuk arah Jakarta Kota hanya dilayani KRL dari Bekasi dengan dua rute: Bekasi – Manggarai – Jakarta Kota dan Bekasi – Pasarsenen – Jakarta Kota. Padahal selama ini frekuensi KRL bekasi jauh lebih sedikit daripada KRL Depok atau Bogor. Hal lain yang membuat ‘freak out’ adalah kondisi stasiun Manggarai yang masih semrawut, ditambah lagi informasi stasiun yang tidak jelas sehingga dikhawatirkan penumpang menjadi korban. Peron Stasiun Manggarai belum dijadikan peron tinggi semua, sehingga penumpang kesulitan untuk naik (jalur 1, 2, dan 3). Padahal selama ini, Manggarai yang menjadi transit penumpang arah Tanahabang saja sudah cukup menyulitkan karena posisi peron dan kesimpangsiuran informasi KRL yang akan masuk. Selain itu banyaknya pedagang di peron juga menjadikan satu masalah tersendiri, karena mereka mengambil posisi di tangga sehingga penumpang harus berhati-hati.

Kalau diteliti memang hal ini cukup baik untuk kemudahan perjalanan KRL, sehingga diharapkan akan lebih lancar lagi. Namun, bila penerapannya tanpa perhitungan bisa dipastikan akan menimbulkan ‘disaster’ bagi perjalanan KRL Jabotabek karena imbasnya akan mengenai semua jalur. Misalnya jalur Bogor yang menjadi panjang karena harus ke Jatinegara, bisa dipastikan kl ada KRL Mogok maka akan parah akibatnya. Selain itu rutenya juga tumpang tindih dengan KRL Bekasi yang melewati Pasarsenen. Sebenarnya apa yang akan dilakukan PTKA/KCJ ini sudah pernah diusulkan oleh komunitas pengguna KRL Jabotabek, KRLMania, pada suatu diskusi. Beberapa usulan yang pernah dilontarkan: sterilisasi stasiun (sampai saat ini belum terlaksana), single class (satu kelas pelayanan, tapi bukan satu harga tiket), dan terakhir pemotongan rute (tujuannya untuk meminimalkan dampak gangguan di satu lintasan).

Salah satu usulan yang pernah dilontarkan adalah semua KRL dari luar Jakarta hanya sampai stasiun transit, dimana pilihan stasiun transitnya sama dengan apa yang ditentukan PTKA/KCJ yaitu Manggarai, Duri dan Tanahabang, lalu ditambah Jatinegara. KRL dari Depok, Bojongged, dan Bogor hanya sampai di Manggarai untuk kembali lagi ke selatan. Sedangkan KRL Bekasi hanya sampai Jatinegara lalu kembali lagi, demikian juga KRL Serpong hanya sampai Tanahabang dan KRL Tangerang hanya sampai Duri. Lalu untuk ke Jakarta Kota, maka diadakan KRL loop Manggarai – Jakarta kota pp, dengan interval waktu yang cukup sesuai (sepertinya sekitar 15 – 20 menit sekali bila dilayani 4 rangkaian krl akan cukup). Lalu untuk lintas circle line, seperti rute KRL Ciliwung saat ini, bisa digunakan untuk penumpang di lintas Tanahabang, Duri, Kp. Bandan, Pasarsenen, Jatinegara, dan Manggarai. Karena jaraknya yang cukup jauh, mungkin diperlukan minimal 8 rangkaian untuk perjalanan yang berlawanan arah. Dengan pembagian ini, sepertinya juga mengurangi tumpang-tindih rute, sehingga perjalanan lebih optimal. Ohya, ada satu rute khusus alias spesial, yaitu rute Jakarta Kota – Kp. Bandan – Tanjung Priok.

Lalu untuk lintas luar, pembagian jumlah rangkaian KRL bisa disesuaikan dengan jumlah penumpang di lintas tersebut. Jalur Bogor tentunya akan mendapakan lebih banyak rangkaian karena dibagi tiga pemberangkatan Depok, Bojonggede, dan Bogor, selain jumlah penumpang terbanyak juga. KRL Bekasi sepertinya akan lebih banyak daripada KRL Serpong apalagi Tangerang. Ya diharapkan dengan pembagian seperti ini bisa lebih meminimalisir resiko gangguan, baik itu gangguan karena sarananya (KRL Mogok, dsb) atau prasarananya (Sinyal rusak, Rel patah, Wesel Manual, dsb). Namun, yang perlu diperhatikan adalah kondisi stasiun Manggarai yang harus segera diperbaiki. Speaker informasi harus lebih banyak, petugaspun harus lebih aktif mengumumkan posisi kereta, dan yang lebih penting adalah petugas keamanan yang menjaga keselamatan dan keamanan penumpang saat turun atau naik kereta.

Ya, ini hanya sekedar usul… silahkan anda setujui atau tidak. Harapan lebih besar adalah KRL kita menjadi lebih baik lagi, lagi, dan lagi…. Teruslah ber-improvisasi, namun jangan lupakan penumpang sebagai manusia, bukan obyek tiket semata….

Bagi yang ingin melihat simulasi rute baru silahkan ke sini. Untuk bahasan yang lebih detail tentang proyeksi perjalanan dengan rute baru, silahkan ke sini.