Hemm, bicara tentang keretaapi lagi nih. Kali ini yang dibahas tentang kartu langganan yang biasa disebut dengan abunemen yang sebenarnya bernama resmi Kartu Tanda Berlangganan (KTB). Beberapa waktu lalu, PTKA melakukan razia tiket di beberapa stasiun Jabotabek yang menghasilkan beberapa orang diamankan karena menggunakan abunemen palsu. Namun, hasil dari pemeriksaan tersebut yang mencengangkan para penumpang yang sudah menjadi pengguna setia KRL. Akibat banyak terjadinya pemalsuan, mulai 1 Desember 2011 sistem KTB akan dihapuskan.

Ketika ditanya ke penumpang, jawaban mereka mayoritas tercengang. Masa mau menghilangkan tikus di lumbung padi, lumbungnya yang dibakar. Karena tidak mau ada pemalsuan KTB, maka sistem KTB yang dihapus bukannya dilakukan tindakan pencegahan. Sebenarnya tindakan pencegahannya tidaklah susah, toh selama ini perangkatnya sudah ada di setiap stasiun hanya saja tidak maksimal dalam pelaksanaannya. Lihat saja, bagaimana para penjaga pintu masuk hanya memeriksa beberapa orang yang lewat tetapi membiarkan orang lain. Bahkan, hanya dengan sekedar kata-kata “Abu” saja sudah bisa lewat. Ketegasan petugas diperlukan setiap hari, tidak hanya ketika ada ‘sang boss’ saja. Karena ketidaktegasan ini akhirnya penumpang pun berani melawan dan cuek saja.

KTB atau abunemen sangat penting bagi para pengguna KRL karena mereka tidak perlu antri tiket di loket yang bisa membuat frustasi. Karena antrian yang panjang, terkadang karena terburu-buru menjadi celah para petugas tiket untuk melakukan kecurangan dalam pengembalian tiket. Kasus ini bukan hanya sekali saja, bahkan sudah jadi modus. Sayangnya laporan yang diberikan tidak ditanggapi serius oleh para pejabat PTKA sehingga kasus seperti ini masih terjadi. Sebenarnya sih banyak yang membeli abunemen karena tidak ingin mengantri yang memakan waktu cukup lama dan terkadan tidak tertib terutama ketika krl sudah akan datang di stasiun. Khusus untuk abunemen KRL Ekonomi, penumpang juga mendapat keuntungan dengan potongan harga karena dengan membeli abunemen dapat dianggap hanya membayar 1 hari perjalanan pulang pergi dengan satu tiket.  Namun, dengan harga abunemen KRL Ekonomi yang cukup murah tersebut masih ada yang memalsukan memang keterlaluan, tapi bukan hal susah untuk mencegahnya. Kalau untuk KTB KRL Commuter memang cukup dipahami dengan abunemen seharga 300ribuan, banyak yg tergoda untuk memalsukannya apalagi tidak ada logo pengaman di abunemen. Yang membedakan antar yang asli dan palsu hanya dari kualitas kertasnya saja. Tetapi tetap saja, bukan alasan yang tepat untuk menghapus abunemen KRL.

Lalu bagaimana dengan abunemen KRD Prameks yang katanya juga akan ikut dihapus? Yups, ternyata imbasnya tidak hanya di Jabotabek tetapi sampai ke Jogjakarta. Alasan yang didengar oleh para penggunanya adalah KRD ini sering mogok dimana untuk pengguna yang membeli tiket uangnya dapat dikembalikan dengan menukarkan tiket, namun untuk pelanggan abunemen susah dikembalikan karena tidak ada tanda bukti yang bisa dikembalikan. Dan sebagai solusinya adalah dengan menghapuskan abunemen agar pelanggan dapat pengembalian uangnya. What a solution, isn’t it? a good solution, oh no… the best solution ever thinked by transportation managemeng around the world.

Suatu ironi, perusahaan jasa di negara lain berlomba memberikan kemudahan bagi pengguna setianya dengan memberikan layanan berlangganan namun PTKA malah menghapuskannya. Dan kalau dilihat memang, pelayanan langganan di negara ini justru kurang mendapat perhatian lihat saja perbandingan paket-paket bonus pengguna telepon pascabayar dengan prabayar. Oke, kembali ke keretaapi…. Memang tidak mudah menghapus para pembuat kecurangan, tetapi bukan berarti harus merugikan pengguna lain yang setia. Berapa persen sih orang yang menggunakan abunemen palsu dibandingkan dengan abunemen asli? apakah 10%? 20%? atau lebih dari 50%? dari berita yang tertulis, sepertinya tidak lebih dari 10%, bahkan mungkin hanya beberapa orang saja dari ribuan orang yang menggunakan abunemen.

Ada beberapa kecurigaan lainnya yang berkaitan dengan penggunaan abunemen sehingga dihapuskannya kartu langganan ini. Salah satunya adalah potensi kerugian karena dengan abunemen, penumpang dapat dengan bebas beberapa kali dalam sehari menggunakan KRL tanpa perlu membeli tiket. Hemm, benarkah? Oke, benar penumpang berabunemen tidak perlu beli tiket lagi kalau mau naik kereta, anytime…. Tapi kalau diperhatikan, berapa persen sih yang melakukan ini setiap hari? Kebanyakan pengguna adalah karyawan, dari karyawan kantoran sampai para pramuniaga di mall yang hanya menggunakan KRL di pagi hari untuk berangkat kerja, dan sore atau malam hari untuk pulang kerja. Hanya dua kali dalam sehari, kecuali kalau mereka pedagang di KRL.

Kecurigaan lain berkaitan dengan penghapusan abunemen ini adalah pengaktifan sistem e-ticketing. Sudah dua tahun lebih, alat yang terpasang belum juga digunakan. Ups, itu untuk sistem e-ticketing jilid dua. Sebelumnya, tahun 2007, Pak SBY juga meresmikan sistem e-ticketing yang diujicobakan di jalur Serpong – Manggarai. Walau terbukti gagal, namun tahun 2009, program tersebut dipaksakan untuk diimplementasikan di seluruh Jabotabek. Hasilnya sampai saat ini, alat tapping elektronik yang terpasang di setiap stasiun sudah dapat digunakan multifungsi. Ada yang menjadi tempat duduk, ada yang menjadi tempat sampah, atau ada yang sekedar menjadi meja. Sedangkan fungsi utamanya sebagai alat masuk atau keluar peron masih belum dapat difungsikan. Dengan sistem e-ticketing ini maka penumpang yang naik KRL akan selalu men-tapping tiketnya, demikian juga ketika keluar stasiun. Potensi kerugian PTKA/KCJ dapat dikurangi. Namun, sayangnya kondisi stasiun belum steril sehingga penumpang masih bebas keluar masuk. Di satu sisi juga, terdengar isyu ada pintu untuk pegawai karena mereka naik gratis sehingga tidak perlu tapping tiket. Ya kalau memang begitu, ada baiknya segera dilaksanakan jangan sampai abunemen dihilangkan lalu penggantinya belum siap.

Sebenarnya kasus penghapusan abunemen ini pernah terjadi ketika PTKA/KCJ masih mengoperasikan KRL Ekspress. Ketika itu abunemen KRL Ekspress dilengkapi dengan nomor tempat duduk. Memang hal aneh, angkutan komuter kok dikasih tempat duduk di tiketnya sehingga menjadi perselisihan penumpang. Yang menggunakan abunemen akan seenaknya mengusir penumpang yang duduk di tempat duduknya walau mereka naik belakangan. Solusinya adalah penghapusan abunemen KRL Ekspress, as simple as that… hehehe. Entah, kenapa tidak terpikir, yang dihapus hanya nomor tempat duduknya saja bukan abunemennya yang dihapus. What a decision, a great decision… I don’t know where is the missing link for they decision flowchart.

Entah apalagi yang akan dilakukan PTKA/KCJ, namun langkah penghapusan abunemen ini sangat merugikan para pengguna KRL Ekonomi dan  KRL Commuter Line.  Solusi untuk menghindari pemalsuan tentunya bukan dengan penghapusan, salah satunya adalah pengetatan pintu masuk stasiun seperti yang sudah disebutkan di awal. Atau kalau mau lebih bagus lagi adalah mempercepat penggunaan mesin e-ticketing yang sudah mangkrak bahkan mungkin rusak dimana potensi korupsi tercium dalam proyek ini. Semoga saja, keputusan penghapusan abunemen di awal Desember batal karena mereka masih mempunyai PR lainnya yang lebih besar dan rumit.

Maju terus perkeretaapian Indonesia, tapi ingat jangan ambil solusi praktis yang menyebabkan orang beralih ke moda transportasi lain.