Berawal dari sebuah artikel di sebuah media online yang ditulis oleh salah seorang pengamat, tentang penandatanganan persetujuan bilateral rute penerbangan antara Indonesia dan Malaysia yang bekaitan dengan 5th aviation freedom. Dalam Hal ini berarti, maskapai penerbangan Malaysia boleh membawa penumpang dari bandara di Indonesia untuk tujuan negara lain (bukan malaysia). Sebaliknya, Indonesia boleh membawa penumpang untuk tujuan negara lain dari bandara di Malaysia.Untuk MOU saat ini, airlines Malaysia boleh membawa dari tiga bandara: Cengkareng (CGK), Denpasar (DPS) dan Makassar (UPG) dengan tujuan Australia (boleh ke Perth – PER, Darwin – DRW, Brisbane – BNE, atau kota lain di Australia). Sedangkan airlines Indonesia boleh membawa penumpang dari Kualalumpur (KUL), Kuchin (KCH), dan Kinabalu (BKI) untuk tujuan Timur Tengah, Eropa, dan Amerika.

Sang pengamat tersebut mengatakan bahwa Indonesia mendapatkan rute kurus sedangkan Malaysia mendapatkan rute gemuk dalam artikelnya, sebagai berikut:

“Malaysia dapat rute gemuk, kita oleh Malaysia ditukar dengan rute kurus yang pasti tidak ada penumpangnya meski frekuensinya lebih banyak. Kalau benar, harga diri kita digadaikan oleh Kemenhub. Terbukti Terminal III jadi hub-nya penerbangan Malaysia (Air Asia, red),”

Dengan kekalahan bola di Final SEA Games, tentunya berita ini akan terdengar panas apalagi mengingat sejarah hubungan Indonesia – Malaysia yang tidak pernah akur, selain masalah penjiplakan budaya juga masalah TKI yang tidak terselesaikan dengan baik. Hal ini terlihat di komentar beberapa pejabat kita seperti:

“Kalau ada asing tentu harus saling menguntungkan. Kalau Malaysia bisa masuk sini, Indonesia pun bisa di sana,” (Ali Wongso – Golkar)

“Setahu saya, setahun yang lalu RDP dengan seluruh maskapai yang ada di Indonesia, memang ada beberapa kendala terkait dengan frekuensi penerbangan yang di berikan Indonesia dan yang di berikan ke penerbangan Malaysia. Saya membaca ada situasi yang kurang menyenangkan,” (Yasti Mokoagow – PAN)

Kalau lihat kondisi airline Indonesia dan Malaysia sebenarnya posisi ini menguntungkan Indonesia. Garuda (GA) bisa head to head sama Malaysia Air (MH), dari segi finansial GA sedang naik ditambah lagi banyak inovasi dalam service dan maintenance sehingga menambah daya pikat, sedangkan MH masih harus berbenah diri karena rival dalam negerinya AirAsia Malaysia (AK) yang menggerogoti pasarnya. Kemungkinan GA untuk penetrasi pasar sangat besar dibandingkan pasar MH di Indonesia. Sedangkan AirAsia pasar akan terpecah antara AirAsia Malaysia (AK) dengan AirAsia Indonesia (QZ) sehingga bisa dianggap seimbang, sedangkan Indonesia masih punya kekuatan airlines lain yang bisa masuk ke pasar Malaysia seperti Sriwijaya (SJ), Lion (JT), Batavia (6Y), bahkan mungkin Mandala dan Royal Pacific yang akan segera mengudara.

Jadi anggapan bahwa rute singgah maskapai Malaysia melalui bandara di Indonesia belumlah segemuk yang dialami oleh airline Indonesia sendiri. Katakanlah MH terbang dengan rute KUL – DPS – PER, di DPS dia boleh jual tiket DPS – PER, namun melihat peluang tidak akan begitu tinggi bahkan mungkin saja akan ada banyak penumpang Malaysia yang singgah di Bali. Hal yang wajar bukan kalau ini, sedangkan penumpang dari DPS ke PER belum tentu bisa bersaing dengan GA atau Qantas. Lalu bagaimana dengan AirAsia X (D7)? Yang perlu diingat adalah D7 menerbangi point to point tanpa transit, jadi kemungkinan rutenya akan KUL – PER langsung, atau membagi dalam dua segmen KUL – DPS dan DPS – PER dengan dua nomor penerbangan berbeda. Kalau ini yang diterapkan maka bukan 5th Freedom lagi, maka itu akan berarti 7th Freedom yang tidak tercover oleh MOU tersebut. Kecuali D7 menerapkan sistem transit untuk menjaring penumpang di DPS.

Soekarno Hatta International Airport

Jadi, janganlah mudah terprovokasi karena peperangan Indonesia vs Malaysia yang seolah-olah kemenangan selalu di tangan mereka. Kondisi Airline Indonesia saat ini sudah cukup kuat, bahkan QZ membuktikan lebih mampu dibandingkan kakaknya AK dibuktikan dengan dipindahkannya Regional Office AirAsia ke Jakarta. Tinggal otoritas perhubungan udara Indonesia yang harus memperkuat diri sehingga airline Indonesia mendapatkan pengakuan Internasional kembali.

So, lets make our aviation better….