Hari ini, adalah hari pertama penggunaan electronic ticketing (E-ticket) untuk KRL Jabotabek dengan istilah COMMET (COMMuter Electronic Ticketing) setelah hampir 3 tahun dari mulai diperkenalkan ke penumpang Jabotabek. Commet ini direncakanan akan menggantikan seluruh KTB (Kartu Trayek Bulan) dan tiket kertas. Untuk inovasinya memang patut diacungi jempol, namun sayang implementasinya ternyata tidak semanis tampilannya.

Pertama kali diperkenalkan sebenarnya adalah tahun 2007, dimana peresmian penggunaannya dilakukan oleh Pak Presiden SBY di jalur Serpong. Namun saying, E-ticket jilid pertama ini ternyata gagal total karena banyak kartu tiketnya yang hilang entah kemana. Lagi-lagi penumpang yang disalahkan karena tidak mengembalikan kartu tiket ke petugas, padahal selama ini informasi bahwa kartu harus diserahkan kembali juga kurang. Belum lagi petugas yang tidak tegas di pintu masuk dan keluar stasiun, ditambah dengan kebiasaan penumpang yang buru-buru meninggalkan stasiun agar cepat sampai kantor. Akhirnya, e-ticket jilid pertama ini gagal, kala itu KRL Jabotabek masih dibawah PTKA Divisi Jabotabek.

Commet Ketika Diujicoba Seorang Penumpang

Rupanya PTKA belum kapok, walau e-ticket jilid pertama gagal, namun karena proyeknya sudah bergulir tetap mengiyakan keinginan Kemenhub (waktu itu masih Dephub) untuk memasang alat-alat e-ticketing ini disemua stasiun Jabotabek. Dan sampai saat ini, e-ticketing jilid dua ini pun tidak berjalan, alias gagal total. Baik Kemenhub dan PTKA tidak ada klarifikasi tentang hal ini, yang ada hanyalah saling lempar tanggung jawab kegagalan tersebut. Sayangnya proyek ini luput dari investigasi korupsi karena terlihat betul merugikan negara.

Tahun 2009, ketika Menhub baru, Pak Freddy Numberi dilantik, KRL Jabotabek yang sudah diserahkan ke PT. KCJ mengajukan usulan untuk e-ticketing dalam program 100 hari Menhub. Ketika ini diumumkan ke pengguna KRL, sejumlah penumpang yang tergabung dalam komunitas KRLMania berusaha memberikan masukan bahwa perlu perbaikan beberapa hal dahulu sebelum penerapan e-ticketing. Rupanya masukan ini tidak mendapatkan sambutan yang baik, malah dianggap sebagai ketidakpercayaan. Akhirnya hal ini terbukti dengan mundurnya pelaksanaan e-ticketing dari target 3 bulan, menjadi akhir tahun 2010 dan akhirnya baru dilaksanakan sekarang, yang mulai bulan Feb – Mei 2012 ini juga masih ujicoba. Sayangnya, pemasangan peralatannya juga berbeda dengan e-ticketing jilid dua sehingga jangan heran kalau di stasiun-stasiun tertentu ada dua deret alat yang serupa. Lagi-lagi alasan yang diberikan adalah alat yang terdahulu adalah milik Kemenhub, sehingga tidak bisa diutak-atik dan harus pasang alat baru yang sejenis. Lagi-lagi kerugian negara, karena proyek ini pun dibiayai oleh negara.

Bahkan proses penggunaan commet pun tidak berubah, padahal sudah ada perubahan kelas kereta dari tahun 2009 dulu. Saat ini tidak ada lagi krl ekspres, hanya ada krl ekonomi ac yang berganti nama menjadi commuter line. Prosesnya ada tiga kali tapping, yaitu pintu masuk, dalam gerbong krl, dan pintu keluar. Salah satu terlewatkan oleh penumpang maka akan terkena denda dimana saldo commet akan terpotong dengan jumlah tarif maksimal, besar belum dipastikan namun diduga adalah Rp. 13.500 (relasi rute Bogor – Jakarta +
Jakarta – Serpong). Tapping di pintu masuk dan keluar memang wajib, karena untuk menandakan stasiun awal dan akhir perjalanan seorang penumpang, tapi tapping di dalam gerbong menjadi pertanyaan dasar. Ketika ada diskusi awal mengenai commet ini, pertanyaan yang dilontarkan adalah kalau petugas tidak bisa lewat atau penumpang turun sebelum petugas lewat apakah kena denda yang sama?  Padahal itu bukan kesalahan penumpang, sampai saat ini ternyata jawaban pertanyaan itu belum ada yang pasti. Salah satu jawaban mereka adalah akan disediakan petugas tapping di stasiun sebagai pengganti petugas dalam gerbong. What the h*ll? what’s the point? kenapa gak dihilangkan saja, apalagi sekarang cuma ada satu jenis krl yang akan memakai si commet yaitu commuter line. KRL ekonomi tidak akan memakai commet, entah kenapa. Belum lagi kalau KRL mengalami gangguan, apakah transaksi tiketnya batal atau penumpang tetap terpotong dengan saldo maksimum karena tidak tapping di pintu keluar.

Pertanyaan lainnya adalah fungsi commet ini untuk menghilangkan penumpang yang tidak membayar karena menggunakan pintu palang, tapi bagaimana caranya kalau stasiun belum steril. Coba kita lihat, siapa sih yang paling banyak tidak membayar? Maaf kalau dikatakan, kebanyakan adalah para tentara, polisi, bahkan outsourcing mereka sendiri. Bahkan, tidak jarang banyak petugas-petugas keamanan swasta yang ikut-ikutan naik gratis. Petugas KRL berani menegur, he… he… he…., bukan rahasia lagi kalau orang-orang berseragam tersebut akan lolos pemeriksaan. Lalu dimana fungsi commet? kalau kebocoran tetap terjadi maka yang disusahkan adalah penumpang setia yang menggunakan KRL dengan membayar tiket resmi. Yang lebih mengenaskan adalah dengan tidak adanya kepastian jadwal, terkadang sudah menunggu satu jam tapi tidak ada KRL masuk (biasanya di siang hari antara jam 11 – 14 WIB) sehingga kita memilih keluar stasiun lagi untuk naik transportasi lain. Apakah dengan demikian saldo terpotong? Atau malah kena denda karena tidak ada tapping di dalam gerbong? Transaction dispute ini harus bisa diselesaikan oleh KCJ agar penumpang setia tidak dirugikan.

Untuk saat ini, itu dulu kita bahas… nanti kita lanjutkan dengan hal-hal lain berkaitan dengan commet ini…. any question?